Pada suatu saat di abad ke-19, seorang
sastrawan Jawa bertanya gelisah kepada dirinya sendiri: lebih berat ke manakah
hatiku, ke Allah atau ke Ratu?
Kita sekarang akan menganggap pilihan itu kontroversial.Tapi
sudah disebutkan, ini abad ke-19. Penulis puisi itu—konon ia Mangkunegara IV
sendiri, yang memerintah Surakarta dari 1857 sampai 1881—menganggap yang
dihadapinya bukan persoalan theologi atau filsafat, melainkan identitas sosial.
Alasannya sederhana: ia bukan keturunan khatib atau tokoh
agama. Ia anak ”priayi”, lapisan pejabat kerajaan yang terpaut langsung atau
tak langsung dengan aristokrasi. Sang penyair Wedatama tak merasa tergabung dalam kalangankaum,
sebutan untuk orang-orang yang penampilan dan pernyataan dirinya dibentuk idiom
”Islam”. Ia bukan ”santri”. Dengan keangkuhan yang setengah disembunyikan ia
anggap ia akan ”nista” bila bergabung dengan kasta kaum yang di bawah itu. ”Yèn
muriha dadi kaum temah nista….”