Sabtu, 08 Oktober 2016

Abangan


Pada suatu saat di abad ke-19, seorang sastrawan Jawa bertanya gelisah kepada dirinya sendiri: lebih berat ke manakah hatiku, ke Allah atau ke Ratu?

Image result for santri abangan priyayiUntuk beberapa lama ia tak bisa menjawab. Tapi akhirnya ia, seperti tertulis dalam kitab Wedatama, me­nentukan sikap: dalam soal bot Allah apa gusti, kese­tia­annya tertuju lebih kepada ia yang bertakhta di bumi. ­”Allah” bukan pilihan pertama.
Kita sekarang akan menganggap pilihan itu kontroversial.Tapi sudah disebutkan, ini abad ke-19. Penulis puisi itu—konon ia Mangkunegara IV sendiri, yang memerintah Surakarta dari 1857 sampai 1881—menganggap yang dihadapinya bukan persoalan theologi atau filsafat, melainkan identitas sosial.
Alasannya sederhana: ia bukan keturunan khatib atau to­koh agama. Ia anak ”priayi”, lapisan pejabat kerajaan yang terpaut langsung atau tak langsung dengan aristo­kra­si. Sang penyair Wedatama tak merasa tergabung dalam kalangankaum, sebutan untuk orang-orang yang penampilan dan pernyataan dirinya dibentuk idiom ”Islam”. Ia bukan ”santri”. De­ngan keangkuhan yang setengah disembunyi­kan ia anggap ia akan ”nista” bila bergabung dengan kasta kaum yang di bawah itu. ”Yèn muriha dadi kaum temah nista….”

Origami


Seorang penulis sejarah yang baik tahu bahwa ia seorang penggubah origami. Ia membangun sesuatu, sebuah struktur, dari bahan-bahan yang gampang melayang. Sebab bahan penyusunan sejarah sesungguhnya bagaikan kertas: ingatan.
Image result for origami boxIngatan tak pernah solid dan stabil; ingatan dengan mudah melayang tertiup. Seperti kertas, ketika ia menampakkan diri di depan kita, sebenarnya dalam proses berubah. Kita yang menemukannya juga berubah: dengan kepala yang tak lagi pusing atau menatapnya dengan mata yang tak lagi lelah; kertas itu sendiri sedang jadi lecek atau sumbing, lembap atau menguning.
Origami, di situ, mengandung dan mengundang perubahan. Berbeda dengan kirigami, ia dilipat tanpa direkat ketat dengan lem atau dijahit mati. Ia bernilai karena ia sebuah transformasi dari bahan tipis dan rata jadi sebuah bentuk yang kita bayangkan sebagai, misalnya, burung undan. Dan pada saat yang sama, ia mudah diurai kembali. Begitu juga penulisan sejarah: ia bernilai karena ia mengandung pengakuan, masa lalu sebenarnya tak bisa diberi bentuk yang sudah dilipat mati.
Saya selalu teringat ini tiap 17 Agustus.
Hari itu telah jadi sebuah institusi. Kita memberinya nama dan merayakannya dalam sebuah lagu (“Tujuh belas Agustus tahun empat lima, itulah hari kemerdekaan kita…”). Ada yang menjadikannya indikator sebuah revolusi (dengan “R”) dan berbicara tentang “Revolusi Agustus”. Di sekitarnya disusun ritual: tiap pukul 09.00 teks Proklamasi dengan tulisan tangan Bung Karno yang bergegas itu dibacakan kembali. Momen 67 tahun yang lalu itu seakan-akan patung pualam yang tak boleh lekang dan lapuk.

Teori Belajar Behaviorisme



Teori belajar behaviorisme adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Teori ini lalu berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan praktik pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behaviorisme.  Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar.

Image result for tokoh behaviorismeTeori behaviorisme dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman.
       Belalajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon (Slavin, 2000:143). Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon. Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada pebelajar, sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan pebelajar terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak penting untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. Yang dapat diamati adalah stimulus dan respon, oleh karena itu apa yang diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh pebelajar (respon) harus dapat diamati dan diukur. Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku tersebut.



PENELITIAN KUALITATIF (Pengertian Data, Analisis Data dan Cara Menganalisis Data Kualitatif)

Oleh : Halim Malik

Image result for penelitian kualitatifPenelitian kualitatif adalah penelitian yang bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis dengan pendekatan induktif. Proses dan makna lebih ditonjolkan dalam penelitian kualitatif. Landasan teori dimanfaatkan sebagai pemandu agar fokus penelitian sesuai dengan fakta di lapangan. Selain itu landasan teori juga bermanfaat untuk memberikan gambaran umum tentang latar penelitian dan sebagai bahan pembahasan hasil penelitian. Terdapat perbedaan mendasar antara peran landasan teori dalam penelitian kuantitatif dengan penelitian kualitatif. Dalam penelitian kuantitatif, penelitian berangkat dari teori menuju data, dan berakhir pada penerimaan atau penolakan terhadap teori yang digunakan; sedangkan dalam penelitian kualitatif peneliti bertolak dari data, memanfaatkan teori yang ada sebagai bahan penjelas, dan berakhir dengan suatu “teori”.

BUKU-BUKU GURU PEMBELAJAR (2)



Bagi yang membutuhkan silakan KLIK tautan di bawah ini :

Buku Untuk Kelas Tinggi :
    Image result for cover buku guru pembelajar
  1. Kelompok Kompetensi A Kelas Tinggi
  2. Kelompok Kompetensi B Kelas Tinggi
  3. Kelompok Kompetensi C Kelas Tinggi
  4. Kelompok Kompetensi D Kelas Tinggi
  5. Kelompok Kompetensi E Kelas Tinggi
  6. Kelompok Kompetensi F Kelas Tinggi
  7. Kelompok Kompetensi G Kelas Tinggi
  8. Kelompok Kompetensi H Kelas Tinggi
  9. Kelompok Kompetensi I Kelas Tinggi
  10. Kelompok Kompetensi J Kelas Tinggi

BUKU-BUKU GURU PEMBELAJAR (1)

Bagi yang membutuhkan silakan KLIK tautan di bawah ini :

Buku untuk Kelas Awal
  1. Kelompok Kompetensi A
  2. Kelompok Kompetensi B
  3. Kelompok Kompetensi C
  4. Kelompok Kompetensi D
  5. Kelompok Kompetensi E
  6. Kelompok Kompetensi F
  7. Kelompok Kompetensi G
  8. Kelompok Kompetensi H
  9. Kelompok Kompetensi I
  10. Kelompok Kompetensi J